Bhayangkara FC vs Arema FC
BANDAR LAMPUNG – Stadion Sumpah Pemuda menjadi saksi bisu sebuah laga penuh tensi tinggi, emosi yang meluap, hingga insiden kekerasan fisik saat Bhayangkara Presisi Lampung FC menjamu Arema FC dalam lanjutan pekan ke-25 BRI Super League 2025/2026, Selasa (10/3/2026) malam WIB. Diwarnai pengusiran dua pemain lawan dan aksi tidak terpuji di lapangan, The Guardians sukses mengunci kemenangan dramatis 2-1 melalui skema comeback yang emosional.
Pertandingan yang dipimpin oleh wasit asal Jepang, Yudai Yamamoto, ini berlangsung dalam kondisi lapangan yang berat akibat guyuran hujan deras. Meski air sempat menggenang di beberapa titik, peluit sepak mula tetap dibunyikan, menandai dimulainya duel dua tim papan tengah yang haus akan poin di bulan Ramadan ini.
Dominasi Awal Singo Edan dan Cedera Aqil Savik
Sejak menit awal, Arema FC yang bertindak sebagai tim tamu tampil sangat menekan. Skuad asuhan Marcos Santos ini tak membiarkan tuan rumah mengembangkan permainan. Baru memasuki menit ke-18, Bhayangkara FC harus menerima kabar buruk saat kiper utama mereka, Aqil Savik, terpaksa ditarik keluar lapangan akibat cedera serius setelah berbenturan keras dengan striker Arema, Dalberto Luan Belo. Posisi di bawah mistar pun kemudian diserahkan kepada kiper berpengalaman, Awan Setho.
Gempuran bertubi-tubi Singo Edan akhirnya membuahkan hasil di masa injury time babak pertama. Pada menit ke-45+1, Joel Vinicius berhasil memecah kebuntuan. Berawal dari umpan sundulan cerdas Dalberto, Vinicius menyambar bola dengan sepakan terukur yang gagal dihalau Awan Setho. Arema unggul 1-0 dan tampak berada di atas angin.
Kartu Merah Pertama dan Petaka di Akhir Babak
Kegembiraan pendukung Arema tidak bertahan lama. Hanya berselang tujuh menit setelah gol pembuka, tepatnya pada menit ke-45+8, petaka mulai menghampiri tim tamu. Gelandang bertahan Arema, Pablo Oliveira, tertangkap basah oleh VAR melakukan pelanggaran fatal dengan menginjak kaki Frengky Missa. Tanpa ampun, Yamamoto langsung merogoh saku belakang dan mengeluarkan kartu merah. Arema pun harus melanjutkan laga dengan 10 pemain hingga turun minum.
Drama Pemukulan dan Runtuhnya Pertahanan Arema
Memasuki babak kedua, intensitas pertandingan justru semakin memanas. Bhayangkara FC yang unggul jumlah pemain mulai mengambil alih kendali permainan. Namun, puncak drama terjadi pada menit ke-69. Dalberto, yang sebelumnya memberikan assist untuk gol Arema, justru menjadi aktor antagonis. Pemain asal Brasil ini terlibat friksi panas dengan bek Bhayangkara, Slavko Damjanovic, yang berujung pada aksi pemukulan.
Setelah meninjau monitor VAR, wasit Yudai Yamamoto kembali mengeluarkan kartu merah untuk Dalberto. Bermain dengan sembilan orang melawan sebelas pemain lawan di lapangan yang licin menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Arema.
Tekanan tanpa henti dari anak asuh Paul Munster akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-76. Privat Mbarga menunjukkan kelasnya sebagai predator kotak penalti dengan sundulan mematikan memanfaatkan umpan sepak pojok. Skor berubah menjadi imbang 1-1, dan momentum sepenuhnya beralih ke tangan tuan rumah.
Kemenangan Bhayangkara FC akhirnya terkunci di menit ke-88. Wasit menunjuk titik putih setelah VAR mengonfirmasi adanya sikut dari Betinho Filho terhadap Dendi Sulistyawan di area terlarang. Moussa Sidibe yang maju sebagai algojo menjalankan tugasnya dengan sangat tenang. Sepakannya mengecoh Gianluca Pandeynuwu dan mengubah skor menjadi 2-1 untuk keunggulan The Guardians.
Kesimpulan
Pertandingan ini bukan sekadar soal tiga poin, melainkan ujian mental bagi kedua tim. Kemenangan ini menjadi yang kelima secara beruntun bagi Bhayangkara FC, sekaligus mengatrol posisi mereka ke urutan ke-6 klasemen sementara dengan raihan 41 poin. Di sisi lain, kekalahan ini terasa sangat menyesakkan bagi Arema FC yang harus tertahan di peringkat ke-11. Kehilangan dua pemain kunci akibat kartu merah serta insiden pemukulan menjadi catatan merah yang harus segera dievaluasi oleh manajemen Singo Edan sebelum kompetisi memasuki jeda libur Lebaran.